Lebih dari 500 Orang Jatuh Sakit di Afrika Selatan, Kualitas Air Jadi Sorotan

Kualitas air bersih kembali menjadi perhatian dunia setelah lebih dari 500 orang mengalami gangguan pencernaan dalam dua kejadian penyakit di Afrika Selatan pada Oktober 2026. Otoritas setempat mengaitkan salah satu kejadian dengan buruknya kualitas air yang mengalir ke sejumlah permukiman di wilayah timur Pretoria. Sementara itu, pihak berwenang juga menyelidiki penyakit serupa yang menyerang mahasiswa di kota Gqeberha.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya akses terhadap air bersih dan pengelolaan fasilitas pengolahan air. Air yang tercemar dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak.

Laporan pada 21 Oktober 2026 menyebutkan bahwa 408 orang, sebagian besar anak berusia di bawah empat tahun, mengalami gejala gangguan pencernaan di wilayah timur Pretoria. Selain itu, sedikitnya 111 mahasiswa di Rhodes University menerima perawatan akibat penyakit serupa. Otoritas masih menyelidiki apakah kedua kejadian tersebut memiliki penyebab yang sama.

Air yang Tidak Diolah dengan Baik Picu Kekhawatiran

Salah satu kejadian berlangsung di wilayah timur Pretoria, Afrika Selatan. Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa instalasi pengolahan air setempat tidak menggunakan klorin selama sekitar tiga minggu karena kesulitan memperoleh pasokan bahan tersebut dari pemasok biasa.

Instalasi itu mengambil air dari Sungai Bronkhorstspruit yang tercemar limbah, termasuk akibat buruknya pengelolaan air limbah di wilayah hulu. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan air yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Klorin berperan penting dalam proses desinfeksi air karena membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit. Jika pengelola instalasi tidak menjalankan proses desinfeksi dengan baik, risiko kontaminasi mikrobiologis dapat meningkat.

Otoritas setempat kemudian mengingatkan warga di wilayah terdampak agar tidak menggunakan air keran untuk minum, memasak, mencuci, maupun mandi sampai mereka memperoleh petunjuk keamanan yang jelas.

Pemerintah juga menyalurkan air melalui mobil tangki darurat. Sejumlah pihak turut membantu menyediakan air kemasan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ratusan Orang Mengalami Gejala Gangguan Pencernaan

Gangguan kesehatan yang muncul dalam kejadian tersebut terutama melibatkan sistem pencernaan. Gejalanya mencakup kram perut dan diare, yang dapat mengganggu aktivitas serta menyebabkan tubuh kehilangan cairan.

Anak-anak membutuhkan perhatian khusus ketika mengalami diare karena kehilangan cairan dapat berkembang menjadi dehidrasi dengan lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa. Risiko tersebut semakin besar jika anak juga mengalami muntah atau kesulitan minum.

Meski kualitas air menjadi dugaan penyebab utama kejadian di wilayah timur Pretoria, penyelidikan terhadap penyakit yang menyerang mahasiswa di Gqeberha masih berlangsung. Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa kedua kejadian memiliki sumber kontaminasi yang sama.

Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti, mengidentifikasi kemungkinan mikroorganisme, dan menentukan langkah pengendalian yang tepat.

Mengapa Air Tercemar Bisa Membahayakan Kesehatan?

Air yang terkontaminasi dapat membawa bakteri, virus, atau parasit yang menyebabkan penyakit. Seseorang dapat terpapar ketika meminum air yang tidak aman atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi selama proses pencucian maupun pengolahan.

Beberapa infeksi yang berkaitan dengan air tercemar dapat menimbulkan diare, mual, muntah, dan sakit perut. Pada kondisi tertentu, penyakit juga dapat menyebabkan demam atau gangguan kesehatan yang lebih serius.

Namun, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit yang berasal dari air. Makanan tercemar dan penularan antarmanusia juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan serupa. Tenaga kesehatan perlu menilai gejala, riwayat paparan, dan hasil pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.

Selain itu, air yang tampak jernih belum tentu aman. Sebagian mikroorganisme tidak mengubah warna, rasa, maupun bau air sehingga seseorang tidak dapat memastikan keamanannya hanya dengan melihat kondisi fisik air.

Oleh sebab itu, pengelola fasilitas air perlu melakukan pengolahan, desinfeksi, dan pemeriksaan kualitas secara berkala.

Cara Melindungi Keluarga dari Risiko Air Tercemar

Kejadian di Afrika Selatan menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu memperhatikan sumber air yang digunakan setiap hari. Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko paparan.

1. Gunakan air dari sumber yang aman

Pilih air minum yang berasal dari sumber tepercaya dan memenuhi standar kesehatan. Jika otoritas setempat mengeluarkan peringatan mengenai kualitas air, ikuti petunjuk mereka dan gunakan air alternatif yang aman.

Jangan menganggap air keran selalu aman hanya karena mengalir dengan jernih. Perhatikan pula pengumuman resmi dari pengelola air atau pemerintah daerah.

2. Rebus air jika otoritas menyarankannya

Merebus air hingga mendidih dapat membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit. Namun, cara ini tidak menghilangkan seluruh jenis kontaminan kimia.

Karena itu, jika otoritas menyatakan air tidak aman untuk digunakan, ikuti instruksi khusus mengenai penggunaan air untuk minum, memasak, mencuci, atau mandi. Jangan mengandalkan perebusan untuk mengatasi semua jenis pencemaran.

3. Jaga kebersihan makanan dan peralatan dapur

Gunakan air yang aman untuk mencuci bahan makanan yang akan dikonsumsi mentah, menyiapkan minuman, dan membersihkan peralatan makan.

Cuci tangan menggunakan air aman dan sabun sebelum makan, setelah menggunakan toilet, serta setelah membersihkan kotoran. Kebiasaan ini membantu mengurangi penyebaran mikroorganisme penyebab gangguan pencernaan.

4. Kenali tanda dehidrasi

Diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan serta elektrolit. Waspadai tanda dehidrasi, seperti rasa haus berlebihan, mulut kering, buang air kecil lebih sedikit, dan tubuh terasa lemas.

Pada anak-anak, perhatikan pula berkurangnya air mata saat menangis, popok yang lebih jarang basah, atau rasa mengantuk yang tidak biasa. Segera cari pertolongan medis jika muncul tanda dehidrasi berat, darah dalam tinja, atau kondisi tubuh terus memburuk.

Larutan rehidrasi oral dapat membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. Namun, seseorang tetap membutuhkan pemeriksaan medis jika mengalami gejala berat atau termasuk kelompok rentan.

Pentingnya Pengelolaan Air Bersih bagi Kesehatan Masyarakat

Kejadian di Afrika Selatan menunjukkan bahwa gangguan pada sistem pengolahan air dapat berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat. Masalah pasokan bahan desinfeksi, pencemaran sungai, dan keterlambatan penyampaian peringatan dapat meningkatkan risiko bagi warga.

Pemerintah dan pengelola fasilitas air perlu memastikan proses pengolahan berjalan sesuai standar. Mereka juga perlu memantau kualitas air secara berkala, menjaga pasokan bahan pengolahan, dan segera memberi tahu masyarakat ketika menemukan risiko kontaminasi.

Di sisi lain, warga perlu mengikuti peringatan resmi dan menghindari penggunaan air yang dinyatakan tidak aman. Kerja sama antara pemerintah, pengelola fasilitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kejadian serupa.

Kasus ini juga mengingatkan bahwa air bersih bukan hanya kebutuhan sehari-hari, melainkan salah satu fondasi kesehatan masyarakat. Pengelolaan yang baik dapat membantu mengurangi risiko penyakit, melindungi anak-anak, dan menjaga kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Baca juga: Penularan TBC: Invasi Senyap Bakteri di Paru-Paru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *