
Mitos ODGJ Kebal Penyakit? Ini Alasan Medisnya!
Mitos ODGJ Kebal Penyakit: Ini Alasan Medis Mereka Tak Mengeluh
Pernahkah Anda melihat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di jalanan tetap aktif meskipun tanpa alas kaki atau pakaian yang layak? Fenomena ini sering kali melahirkan mitos odgj kebal penyakit di tengah masyarakat luas. Banyak orang percaya bahwa mereka memiliki daya tahan tubuh super yang membuat mereka terbebas dari infeksi bakteri atau virus berbahaya. Pertanyaannya, kenapa orang gila jarang sakit atau setidaknya terlihat demikian dalam kehidupan sehari-hari?
Faktanya, pandangan tersebut adalah sebuah kekeliruan besar dalam dunia medis. ODGJ sebenarnya tetap bisa mengalami luka, infeksi, hingga penyakit kronis layaknya manusia pada umumnya. Namun, kerusakan dan ketidakseimbangan kimia pada otak mengubah cara mereka merespons sinyal bahaya dari tubuh.
Baca Juga: Strategi Menciptakan Bisnis Berkelanjutan sebagai Aset Warisan
Bagaimana Sistem Saraf Gangguan Jiwa Mengubah Persepsi Nyeri?
Untuk memahami fenomena ini, kita harus melihat bagaimana sistem saraf gangguan jiwa bekerja saat memproses rangsangan dari luar. Pada tubuh yang sehat, sistem saraf akan langsung mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak ketika terjadi cedera fisik. Sebaliknya, penderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mengalami anomali yang sangat signifikan pada pusat pemrosesan emosi dan sensorik mereka.
Otak mereka mengalami kesulitan untuk menerjemahkan sinyal dari organ tubuh secara akurat. Oleh karena itu, cedera yang seharusnya terasa sangat menyiksa justru tidak terdeteksi oleh kesadaran mereka. Kondisi inilah yang membuat mereka tidak pernah mengeluh atau meminta pertolongan medis meskipun tubuh mereka sedang dalam bahaya.
Menilik Ambang Batas Nyeri ODGJ dan Peran Neurotransmiter Otak
Secara biologis, peningkatan ambang batas nyeri odgj terjadi karena adanya kekacauan pada produksi zat kimia atau neurotransmiter di otak. Ketika seseorang mengalami gangguan jiwa berat, otak memproduksi hormon dopamin dan endorfin dalam jumlah yang tidak normal.
Zat-zat kimia ini memiliki peran yang sangat krusial dalam menyembunyikan rasa sakit secara alami:
-
Endorfin Berlebih: Bertindak sebagai analgesik atau pereda nyeri alami yang sangat kuat, mirip dengan efek obat bius.
-
Dopamin yang Rusak: Mengacaukan fungsi kognitif, sehingga otak gagal memprioritaskan rasa sakit sebagai ancaman yang mendesak.
-
Hormon Stres Kronis (Kortisol): Kondisi stres mental yang konstan membuat tubuh mereka terus-menerus berada dalam mode bertahan hidup (fight or flight), yang secara alami menekan rasa sakit fisik.
Sebagai akibat dari kombinasi kimiawi ini, saat organ tubuh mereka mengalami infeksi bakteri parah atau luka robek, mereka benar-benar tidak merasakannya. Mereka terlihat sehat-sehat saja dari luar, padahal tubuh mereka sedang mengalami kerusakan organ internal.
Bahaya Tersembunyi di Balik Diamnya Penderita Gangguan Jiwa
Ketidakmampuan mengomunikasikan rasa sakit ini justru memicu bahaya yang jauh lebih fatal bagi keselamatan penderita. Karena mitos odgj kebal penyakit ini terus dipercaya, masyarakat dan keluarga sering kali mengabaikan kondisi fisik mereka. ODGJ tidak akan mendatangi dokter untuk mengeluh demam, melainkan mereka akan tetap berjalan dengan luka yang mulai membusuk.
Akibat keterlambatan penanganan ini, banyak penderita gangguan jiwa yang tiba-tiba mengalami komplikasi parah tanpa ada gejala awal. Oleh sebab itu, tenaga medis kini lebih fokus untuk melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh tanpa menunggu keluhan verbal dari pasien.
Mereka Butuh Empati, Bukan Anggapan Mistis
Sekarang kita tahu bahwa fenomena ODGJ yang tampak kebal sama sekali tidak berkaitan dengan kekuatan magis atau daya tahan tubuh super. Perubahan drastis pada sistem saraf dan lonjakan zat analgesik alami di otaklah yang mendistorsi rasa sakit mereka.
Oleh karena itu, mari kita hentikan stigma dan salah kaprah ini. Sudah saatnya kita memberikan perhatian medis yang lebih layak, karena di balik diamnya mereka, ada tubuh yang mungkin sedang menjerit kesakitan.
Tinggalkan Balasan